Goresan Manifestasi


 Suatu hari saya menemukan quotes di salah satu sosial media “Tuliskan jika kamu memiliki keinginan atau cita-cita, maka lihatlah bagaimana semesta bekerja”. Terdengar muluk-muluk, tapi mungkin saya adalah salah satu dari sekian yang menikmati muluk-muluk itu.

 

Saat saya duduk di kelas 6 SD, sekitar tahun 1993, saya pernah menggambar apel merah yang terdapat pintu dan jendela di badannya, sama seperti rumah spongebob (zaman itu belum terbit kartun tersebut :p). Saya ingat menuliskan di sebelah gambar itu yang kata-katanya kurang lebih “kalau udah besar nanti, saya mau sekolah yang belajar bikin rumah kaya gini”. Alhamdulillah, saya berhasil mengantongi ijazah arsitek belasan tahun setelahnya. Di lain hari, saat mendapat tugas pelatihan dari kantor ke salah satu universitas terbaik di Bandung, saya menuliskan nama universitas itu hampir memenuhi satu halaman binder saat sedang menerima materi. Dan di dalam hati saya bergumam, suatu saat saya akan jadi mahasiswa di sini. Qodarullah Sembilan tahun kemudian saya menjadi salah satu peserta wisuda master di universitas tersebut. Dan ada beberapa goresan lain yang jika di ingat Kembali telah terwujud dalam hidup saya.

 

Lalu pada pertengahan bulan Juni tahun 2025 saya menghadiri Event Amazing Muharram yang di pimpin langsung oleh Ustadz Fatih Karim dengan tema Beyond The Limit, dimana peserta diajak untuk memperluas wawasan, memperkuat nilai spiritual, serta membangun pola pikir yang mampu menembus batas-batas kemustahilan dalam kehidupan, ya… kemustahilan bagi manusia tapi TIDAK bagi Allah.

Setelah 8 jam duduk dan menikmati ceramah dari beberapa tokoh inspiratif diselingi dengan makan siang dan sholat dzuhur, event itu selesai. Saya dan suami bergantian untuk melakukan sholat Ashar karena harus menjaga tas dan sepatu. Mengingat peserta yang jumlahnya ratusan, kami harus hati-hati akan barang kami sendiri. Setelah melaksanakan sholat, kami berniat membeli snack atau souvenir untuk oleh-oleh anak kami di rumah. Kebetulan di lobby gedung tersebut terdapat beberapa pameran dan booth UMKM.  

 

Sampailah pada sebuah booth yang hanya terdapat papan yang berukuran sekitar 3 x 1,5 meter dengan judul “PAPAN HARAPAN” dan tempelan kertas sticky note berwarna-warni. Banyak peserta yang mengantri untuk meminta kertas, bergantian menggunakan papan jalan, atau sekedar ingin menempelkan ke papan lebar itu. Tiba-tiba saya teringat dengan keinginan ibu untuk segera pulang ke kota kelahiran beliau, pun saya yang juga memiliki keinginan yang sama akan hal itu. Selain memang otak masih penuh dengan kajian Beyond the limit tadi, maka dengan keinginan dan keyakinan penuh, saya menuliskan harapan terbesar saat itu selain juga harapan lain dalam satu kertas, dan dua harapan besar lainnya di sticky note berbeda (semoga Allah juga mengabulkannya, aamiin 😊 ). Lalu begitulah, semesta bekerja dengan pertolongan orang-orang yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya.



Sumber : Koleksi pribadi

 

Dari kejadian itu, saya meyakini bahwa menuliskan keinginan tidak hanya soal mencatat harapan, tapi juga merupakan bagian dari proses manifestasi. Kita memfokuskan energi dan intens pada hal yang ingin dicapai tersebut. Kita ‘dipaksa’ membentuk pola pikir positif dan melakukan jalan-jalan positif untuk mewujudkannya. Dan setiap mengingat kertas yang berisi harapan yang saya tulis tanpa alas dan berdesakan sehingga tulisan yang berantakan itu terasa seperti keajaiban. Sejujurnya saat itu sempat juga terselip putus asa jika mengingat rumitnya alur administrasi yang bakal ditemui dan panjangnya masa penantian lalu. 

 

Satu hal yang juga harus melekat disana adalah rasa percaya tanpa memaksa. Penting bagi kita untuk tidak merasa kecewa saat keinginan itu tidak terwujud, karena apapun yang baik bagi Allah itu pasti yang terbaik bagi kita. Maka tulislah hal-hal baik dengan hati gembira, dan percaya akan keajaiban kalimat “Kun Fa Yakun” milik Allah. Tugas kita hanya yakin dengan usaha dan do’a, terdengar klise, tapi begitulah cara harapan menjadi nyata. Karena pada dasarnya goresan manifestasi yang kita buat, adalah bentuk lain dari do’a yang kita langitkan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya dan Tata Ruang

4 Tahun

Kota (kelahiranku) Wonosobo #2_makanan