Peristiwa G30S/PKI di mata Gen Z

Memiliki anak-anak yang lahir di generasi 2000an, atau yang dikenal dengan generasi Z atau Gen Z itu rasanya seperti hidup bersama "pemandu wisata" ke era masa depan. Mereka akan membuat suasanan menjadi seru, ramai, penuh kejutan, dan bikin emaknya seperti saya ini auto tak menua. Mereka punya banyak istilah “Ajaib” untuk generasi millennial dan generasi X. Kata yang paling terkenal saat ini adalah “orang have” untuk membahasakan orang-orang yang memiliki kemampuan finansial. 

Mereka enak diajak nongkrong dan yang pasti juga dikenal digital native juga sangat kritis. Mereka sering ngasih sudut pandang baru yang nggak pernah kepikiran sama generasi sebelumnya.

 

Pun yang terjadi malam tadi Ketika saya dan anak-anak membahas tentang peristiwa G30 S PKI dan film nya. Obrolan kami mengalir saja, mulai dari bagaimana di zaman emaknya SD diwajibkan nonton Film  Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI setiap tahun d akhir September. Tentu saja mereka terkejut setelah membuka TikTok dan melihat beberapa short klip mengenai film tersebut. “serem gak sih bund untuk anak SD yang beginian” begitu kesan mereka setelahnya. Ternyata cara mereka memandang film tersebut sangat berbeda disbanding generasi sebelumnya. Seingat saya, menonton film itu rasanya deg-degan semacam ada trauma politik di dalamnya. Tapi bagi Gen Z yang notabene udah nempel dengan media sosial sejak mereka piyik merasa film yang durasinya panjang, kurang lebih 4 jam ini, malah nempel di otak mereka dengan pandangan yang lebih random.

 

Anak perempuan saya berkomentar “backsound nya bikin serem ih…”  setelah dia membuka beberapa klip TikTok nya, yag langsung di iyakan oleh adik lelakinya. Lalu dia mengatakan “tapi ini musik sering banget lewat di FYP seringnya dipakai buat konten horor, konspirasi, malah kadang jadi sound bercandaan pas lagi nemuin situasi gak banget tauuu…” lanjutnya. Jadi menurut saya walaupun mereka tidak pernah nonton filmnya sampai kelar, scoring music, suara gedoran pintu malam-malam atau dengung aneh dari film ini semacam terdefinisi suara horor lokal di kepala mereka.

 

Bukan Cuma audio, anak-anak juga menunjukkan meme atau sticker yang diambil dari potongan  dialog-dialog jadul di film ini. Seperti kalimat "Darah itu merah, Jenderal!" atau "Jawa adalah kunci"? Kutipan ini seringkali dijadiin template komedi atau jadi bahan obrolan santai, mulai dari urusan politik versi receh, bahasan game, sampai topik sepele sehari-hari.

 

Lain kakak, lain pula adiknya. Dia pernah  nobar (nonton bareng) di sekolah saat duduk di kelas 2 SMP. Anak saya mengatakan “ yang paling kebayang tuh kaya ruangannya ngerasa jadi horror.  Mana filmnya Panjang banget, kek ga akan selesai sampai besok subuh…” ujarnya. Sambil tertawa.  “mana kita kudu duduk rapi, padahal yang diliat macam adegan penculikan kan bund..” lanjutnya dengan nada penuh penekanan. Saya pun ikut tertawa lepas membayangkan suasana yang dia hadapi saat itu. Menurut saya, Gen Z itu digital natives yang kritis, mereka tidak akan menelan film ini mentah-mentah. Cuplikan Film G30S/PKI seringkali muncul di beranda mereka saat mendekati peringatan G30S seperti saat ini. Anak-anak membahas film ini dari sudut pandang cinematography dan tata suara yang emang kebangetan keren buat ukuran tahun 80-an, dan satu lagi dari sudut pandang sejarah alternatif sama teori konspirasinya.

 

Jadi ya, ketimbang dianggap sebagai alat propaganda yang menakutkan, buat Gen Z film G30S/PKI ini akhirnya diingat sebagai kombinasi unik antara masterclass soundtrack horor, gudang meme di medsos, sama bahan obrolan sejarah yang seru di internet.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya dan Tata Ruang

4 Tahun

Kota (kelahiranku) Wonosobo #2_makanan