Sebuah Kejutan

 ‘yang warna biru aja mba, motif dasi’ Rey menunjuk ke arah dinding yang di penuhi kertas kado dan berbagai macam corak

‘sekalian dengan pita nya mba?’ tanya si pelayan seraya menggulung kertas kado pilihan Rey tadi.

"ya juga ga apa-apa, tapi jangan yang terlalu heboh ya mba" pinta Rey, bertepatan dengan getaran dari saku jaketnya. Handphone berbunyi tak lama kemudian, diambilnya, tertera nama Ditya disana. Rey terdiam, ragu-ragu untuk mengangangkatnya, hanya memandang hingga getaran itu terhenti. Terdiam lagi, lalu memasukkan kembali ke dalam saku jaketnya.

‘berapa?’ tanya Rey

‘langsung ke kasir aja mba’ jawab si pelayan ramah sambil menunjukkan dimana letak kasirnya. Rey berjalan mendekati kasir, mengantri satu pelanggan, membayar, lalu melangkah keluar dengan jinjingan tas recycle berwarna maroon.

****

‘kalo kamu ulang tahun, kamu pengen kado apa Dit?’ tanya Rey sambil mengaduk es campur saat makan siang bersama Ditya 2 bulan yang lalu

‘nggg…apa ya?’ Ditya menjawab nyengir

‘serius….’ Sahut Rey 

‘beneran nih mau kasih kado ke aku?’ goda Ditya lagi

‘ya udah deh, ga jadi aja’ jawab Rey manja

‘hahaha….iya..iya…’ Ditya tertawa sambil memegang gemas kepala Rey

‘kalo mau kasih beneran, aku pengen jaket warna coklat, bahan kulit yang mahaaaaal…’goda Ditya lagi

‘uuuu….maunya..sini tambahin duitku deh kalo mau spesifikasi yang kaya maumu’

‘ya, aku janji kasih kamu jaket, tapi kalo bahan kulit yang mahal aku ga punya duit’ lanjut Rey, Ditya hanya dapat tertawa terbahak melihat tingkah lucu Rey ketika itu.

Dan hanya berselang 3 hari setelah itu, Rey tanpa sengaja melihat Ditya di sebuah pusat perbelanjaan bersama seorang wanita seumurnya, atau mungkin dibawahnya. Si wanita bergelayut manja di lengan Ditya. Mereka berbincang begitu intim,  wajah sumringah, tanpa jarak.

tanpa rasa canggung....

‘mama, aku ambil ini ya’ tiba-tiba seorang anak perempuan berumur kurang lebih 4 tahun menghampiri si wanita, lalu memasukkan sebungkus snack ke dalam trolly yang Ditya dorong. Si wanita tersenyum lembut menanggapi permintaan si anak.

Mama....?? 

‘Pa, parfum toilet udah kering deh kaya’nya. Jangan lupa di rak sana ingetin mama ya...’ kata si wanita sembari memasukkan susu bubuk untuk anak. Saat itulah Ditya berpapasan dengan Rey yang  berlalu beget saja

Ditya pias....

ekor matanya mengikuti langkah Rey, degup jantungnya terpompa begitu cepat dan telinga berdengung kencang 

‘Kenapa Pa??’ tanya wanita tadi, sang istri. Ditya hanya diam, mencoba menata nafas yang terasa sesak

‘pa…??’ ulang sang istri lagi seraya menyorongkan wajahnya ke arah sang suami

‘eh…ga apa apa ma, badan papa mendadak kurang naaman’ jawab Ditya sekenanya. 
Bibirnya terasa kering.
Sang istri hanya terdiam dengan wajah heran. Dan Ditya tak lagi konsentrasi untuk menemani istri dan anak berbelanja akhir pekan itu. Terbayang saat berpapasan dengan Rey, seperti adegan slow motion berulang lagi dan lagi di kepalanya.

tapi sosok Reyna telah menghilang sepenuhnya.

*****

Rey memasuki kamarnya lalu merebahkan tubuh di atas tempat tidurnya - membisu tak bergerak.

15 menit berlalu....
Otaknya masih sibuk membuat cerita, mengingat kejadian, bahkan menghitung jumlah hari yang sudah ia lalui bersama Ramaditya, kekasih hatinya. Lelaki berkulit putih, dengan satu cengiran khas. Lelaki yang mampu meluluhkan hatinya. Lelaki yang mampu berkeliling dunia dari hasil reportasenya yang menawan. Lelaki yang bisa memenuhi hari-harinya dengan mimpi dan cinta. 

Lelaki yang berjanji akan menikahinya akhir tahun ini...

Kemudian hari ini, dia tiba-tiba menjadi lelaki yang tak pernah dia kenal sebelumnya, ternyata dia telah berkeluarga.

‘stupid….’ umpatnya ke diri sendiri.

Gawai berdering, nomor tak di kenal. Rey memandang layar sejenak lalu mengangkatnya

‘ya…’ jawabnya lemah. ‘o…ya sebentar saya buka’ lanjutnya, lalu dengan lunglai Rey melangkah keluar kamar menuju pintu utama.

‘paket mba, saya ketok berkali-kali gak di buka, jadi saya telpon saja’ seorang lelaki berdiri didepan pintu sambil membawa bungkusan berwarna coklat. Rey tak menjawab. Dia memandangi resi yang menempel di kotak paketnya dengan wajah datar. Rey menandatangani surat tanda terima, dan menutup pintu kembali tanpa memperdulikan si pengantar paket masih di depan rumahnya atau sudah pergi.

Rey kembali melangkah ke kamarnya, mengunci pintu dan melemparkan bungkusan paket tadi ke nakhas sekenanya. Lalu merebahkan tubuh kembali dan berusaha terlelap. Ingatan tentang kejadian di supermarket sina tadi mulai menhgabur, lalu menghilang, dan berubah lebih jelas di dalam mimpinya.

*****

Perlahan Rey membungkus jaket yang sudah dilipatnya dengan rapih. Lalu menyelipkan secarik kertas berwarna biru kedalam lipatannya. Tak ada senyum yang menemani saat membungkus isi kado yang sengaja ia pesan khusus melalui toko online itu. Tangannya lincah melipat sudut demi sudut dan menempelkan pita perak finishing nya.

Rey meraih telepon genggam nya, memandangi layar sejenak sembari menghela nafas panjang. Lalu dengan ragu Rey menuliskan "jam 7 ya... di tempat pertama kali" dan terkirim...

Rey menunduk dalam dan memejamkan mata

‘Rey bisakah bicara?’ ucap Ditya suatu siang, sehari setelah kejadian berpapasan di supermarket itu.

‘Rey…’ suara Ditya terdengar khawatir, tapi Rey menjawab dengan suara riang "Apaan sih Dit...hahaha"

‘eh, kamu udah makan belum?’ lanjut Rey dengan acuh. Ditya tak menjawab. ‘yeee… ditanyain jugaaa…’ desak Rey lagi

‘udah’ jawab Ditya singkat

‘hmmm, pasti makan di kantin kantor ya…’ Rey menggoda bernada maja seperti biasanya. 
Ditya kembali diam, ia tau Rey sedang berusaha menguatkan dirinya, dan pura-pura tak terjadi apa-apa.

‘eh, aku udah pesen meja buat ulang tahunmu loh Dit. Aku mau kita ulang semua kejadian pertama kita ketemu disana, kamu pake baju biru, aku juga.. Awas kalo ga dateng, aku marah banget!' Ujar Rey tak memberi kesempatan sedikitpun untuk Ditya menjawab. 

Lalu percakapan berakhir begitu saja

*****

Rey menggunakan sweater kuning belang-belang orange dan biru muda. Menyisir rambut seadanya, membuat kuncir ekor kuda seolah hendak jalan sore atau jogging. membawa box berpita silver yang ia kaitkan di bawah stang motor putih kesayangannya. hari itu adalah hari yang telah ia rencanakan. Sebenarnya Ditya menawarkan untuk menjemput kencan mereka sore itu, tapi Rey menolak dengan alasan lebih seru kalau ketemu di lokasi saja.

‘meja 8 siap mba?’ tanya Rey kepada penjaga kasir yang tak jauh dari pintu masuk

‘sudah mba, ini dengan mba Reyna sendiri?’ tanya si penjaga kasir

‘yup’ jawab rey tersenyum. kemudian seorang petugas mengantar Rey ke meja pesanannya. 

"silahkan mba, ini meja pesanannya" Rey mengangguk seraya mengucapkan terimakasih. 
setelah petugas itu pergi Rey berdiri sejanak memandangai meja itu dengan penuh makna. ia menyentuh sebuah lilin dengan angka 31 yang siap dinyalakan di atas balckforest berhias cream lemon. setelah beberapa waktu terdiam di meja itu, Rey melangkah dengan gontai menuju meja kasir kembali, lalu membayar semua bill pesanannya.

*****

‘meja 8 mba..’ Ditya menghampiri meja kasir Ocean Cafe, 5 menit berselang.

‘Atas nama Ibu Reyna?" Ditya menganggungk. "Sudah siap pak" jawab kasir dengan ramah. Lalu menunjukkan arah ke meja yang dimaksud. Ditya bergegas dengan langkah tergesa seolah tak akan sampai tepat waktu.

Matanya menatap tajam ke arah bungkusan biru berpita perak di sebelah kue tart. Lalu perlahan mendekati meja, dan duduk. Menatap kue itu, lalu tersenyum 'Dasar Rey… ' pikirnya.

‘malam pak, ini minuman pesanan bapak’ seorang pelayan mengantarkan milkshake vanila.

‘saya belum pesen mas, kan saya baru sampai...’

‘Sesuai pesanan yang tertulis disini pak... mmm...meja atas nama ibu Reyna kan ya..?’ potong pelayan memastikan.

‘Rey..? Dimana orangnya??" tanya Ditya memburu

‘nggg… kurang tau pak, saya haya bertugas mengantarkan.. ’, jelas pelayan tersebut. ‘ada pesanan lagi pak? kalau tidak saya permisi..’ lanjutnya. 

"tidak, terimakasih.." jawab Ditya pelan, seraya mencari dimana Reyna berada. 

Setenga jam berlalu, setelah berkali-kali bbm tidak di balas, telepon tak diangkat, sms tak ada jawaban, dan minuman tinggal setengah, Ditya mulai yakin bahwa Rey akan datang. 
Ia meraih kado di hadapannya, lalu membukanya perlahan. 

Matanya tertuju pada jaket itu, lalu terdiam cukup lama. Ditya menarik kertas, yang tersembul dari balik lipatan kerah jaket kulit berwarna coklat sesuai keinginannya.

Hai Ditya… happy b’day yah…
Udah Tiga satu  lho, jadi harus jadi orang yang bijaksana, pastinya..
hey sini aku kasih tau,
Suatu hari nanti aku juga akan mengajak suamiku jalan-jalan dan membeli parfum toilet untuk rumah tinggalku, dan tentunya itu bukan denganmu :p

Sadarilah bahwa jalan pulangmu bukan ke arahku, 
mulai sekarang, gang ke rumahku tidak lagi menerimamu.
hiduplah dengan jujur dan bahagia

With love, Reyna

Nb. Anakmu cantiiik… dia punya mata sepertimu

Ditya terpana dan tak lagi bergerak dari posisi duduknya. Ia menggenggam selembar kertas itu dengan tatapan nanar, jemarinya meremas jaket yang teronggok di pangkuannya.

Lampu remang-remang membuat Ditya tak mampu melihat siapa saja yang menyaksikan kelu yang ia rasakan. Seseorang yang memunggunginya sedari tadi berdiri  lalu melangkah dengan pasti menuju halaman parkir, dimana si putih yang berada tak jauh dari pintu utama telah menunggunya. Ia menghidupkan roda dua kesayangannya itu, lalu melaju kencang meninggalkan Ocean Cafe, tempat kenangan pertama bertemu dengan lelaki yang selalu dikenalnya baik selama ini.

Laju rodanya menembus angin malam yang terasa menusuk tulang, sementara bibirnya berucap lirih kepada sang angin dengan penuh kelembutan “selamat tinggal Raditya...”.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya dan Tata Ruang

4 Tahun

Kota (kelahiranku) Wonosobo #2_makanan